Cara membuat pola kaos digital di CLO3D dimulai dari memahami kain knit dan negative ease, lalu menggambar pola dasar badan depan dan belakang, menambahkan kerah rib yang diregangkan, dan menyelesaikan lengan set-in atau raglan. Berbeda dari kemeja atau dress yang memakai kain tenun, kaos memakai kain rajut yang melar — sehingga pola dibuat sedikit lebih kecil dari tubuh agar memeluk badan dengan rapi.
Kaos adalah pakaian paling sederhana sekaligus paling sering disepelekan. Hampir semua orang punya kaos oblong di lemari, dan industri konveksi serta distro di Indonesia berputar di sekitarnya. Tetapi justru karena terlihat sederhana, banyak pemula salah langkah: mereka menggambar pola kaos persis seperti pola kemeja, lalu bingung kenapa hasil simulasinya kebesaran, berkerut, atau jatuh seperti karung.
Rahasianya ada pada kain. Kaos dibuat dari kain rajut atau knit — seperti cotton combed, cotton bamboo, atau jersey — yang punya sifat melar. Sementara kemeja dan dress umumnya memakai kain tenun atau woven yang stabil dan tidak melar. Perbedaan satu kata ini, melar versus tidak, mengubah seluruh logika pola. Inilah satu hal yang hampir tidak pernah dijelaskan tutorial pola kaos di Indonesia, yang sebagian besar masih berhenti pada jiplak kaos lama di atas kertas karton.
Artikel ini ditujukan untuk pemula yang ingin latihan serius membuat pola kaos secara digital, bukan sekadar menonton fitur software. Kita akan membangun workflow yang masuk akal: ukuran tubuh dan size chart → memahami knit dan negative ease → pola dasar badan → kerah rib → lengan → simulasi → revisi → dokumentasi. Pendekatannya mengikuti pengalaman Pushka School mengajar fashion design dan CLO3D untuk komunitas pembelajar Indonesia, dengan 10,800+ students yang belajar dari level dasar sampai membangun portfolio dan brand kaos sendiri.